[SHORT STORY] #1 SEBUAH KATA ‘AMIN’

Dalam kehidupan rohani, persekutuan doa seperti sudah menjadi tradisi di dalam sebuah kelompok. Hal tersebut yang ketika itu sedang terjadi di rumah keluarga sederhana yang  terdiri dari seorang ayah, ibu, seorang putra sulung, seorang putri kedua, dan putri bungsunya yang kira-kira berusia 4 tahun. Sudah seperti kebiasaan pula, ketika orang tua melangsungkan ibadah persekutuan, para anak-anak dengan mandiri bermain sendiri di luar rumah bersama anak-anak yang lain.

Suatu ketika si putri bungsu merasa bosan dan masuk ke dalam lingkaran persekutuan dan hendak menghampiri ayahnya. Saat itu tiba saatnya akan dipanjatkan doa syafaat. Ketika putri bungsu ini mendekati ayahnya sambil berlari-lari kecil dengan girangnya, sang ayah menarik putrinya ke dalam dekap pangkuannya dan berbisik, “Duduk anteng sini, berdoa dulu!” kata ayah sambil mengenggam tangan putri bungsunya dan melipat kedua tangannya. Hanya beberapa menit saja si bungsu bertahan diam, lalu ia kembali merasa bosan. Kemudian dalam hatinya ia mulai gusar dan bertanya-tanya, ‘doanya kok nggak selesai-selesai ya’. Dengan rasa penasaran yang tinggi, si bungsu bertanya, “Pah, doa itu selalu selesai pas kata ‘AMIN’?” tanyanya dengan polos. Tentu saja, sang ayah tak menjawab karena sedang kusyuk berdoa. Dalam hati si bungsu membatin, ‘iya, biasanya kalau amin terus selesai kok. Berarti aku cuma perlu duduk anteng sampai kata amin lalu bisa bermain lagi.’

Ketika si bungsu bertumbuh menjadi gadis yang dewasa, gadis itu teringat lagi dengan kejadian tersebut, kemudian ia tertawa. Dulu, saat ia masih kecil, yang ia tahu berdoa adalah sikap duduk tenang, menutup mata, melipat tangan, lalu hanya menunggu sampai kata amin, lalu boleh beraktivitas lagi. Namun, di balik semua itu doa adalah makna dan kata di dalamnya dan bagaimana sebuah kata itu diungkapkan dan dibenarkan di dalam Tuhan yang kita percayai masing-masing.

Bagaimana dalam doa itu kita memuji kebesaran dan keagungan Tuhan, mengaku semua kesalahan dan dosa kita, menaikkan permohonan kepada Tuhan, serta mengucap syukur kepada Tuhan atas segala berkat dan rahmat-Nya. Benar, doa diakhiri dengan kata ‘AMIN’ untuk kita boleh meyakini ungkapan kita dalam kebenaran dan kesetiaan Tuhan sekaligus mempercayai bahwa Allah pasti mendengarkan doa kita. Namun, doa bukan hanya selesai dengan kata ‘AMIN’ saja. Doa adalah maknanya dan doa adalah hati kita sendiri. Betapa berharganya makna sebuah doa dan sebuah kata ‘AMIN’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s