[Notes] Story About Marionette (GKS 2014 – 17.05.14)

Annyeong~ Will share about my class’performance at Gelar Karya Seni (GKS) 2013-2014 SMA Negeri 7 Purworejo. My class, Kelas XII Bahasa menampilkan drama musikal berjudul Marionette (Perancis : boneka) bercerita tentang gadis galau tentang cowok gitu, akhirnya happy / sad ending yaaa??? *guessing* Kalau penasaran, baca aja … Hehehe🙂 Happy read !!! Enjoy !!!😀

 *****

Cerita diawali dengan kelulusan masa SMA suatu sekolah. Murid-murid tampak berfoto-foto ria bersama menunjukkan muka bahagianya atas kelulusan yang telah mereka capai pada hari ini. Namun, satu hal yang terasa ganjil, terdapat wajah sendu di antara banyak wajah ceria para siswa yang lainnya. Kelulusan justru bukan menjadi hal yang membahagiakan bagi siswa yang satu ini. Sebut sajalah dia Reta. Baginya, kelulusan justru berarti bahwa ia harus melepaskan seorang pujaan dalam hatinya selama 3 tahun yang ia jalani di sekolah ini.

1

Kelulusan yang harusnya menjadi moment yang sangat membahagiakan baginya, ia justru merasakan hal yang begitu manyakitkan hatinya. Ia hanya dapat menahan sedih, karena orang yang ia cintai justru malah bersanding dengan teman sekelasnya sendiri. Rasanya seperti dikhianati dari belakang. Ia sudah cukup sabar menerima kenyataan bahwa cowok yang selama ini disukainya tidak meliriknya sama sekali sebagai orang yang lebih dari sekadar teman, apalagi menyadari bahwa ada seorang yang selama ini mencintainya dengan tulus. Saking tak pekanya, cowok pujaannya itu dengan teganya mengabaikan sentuhan lembut tangan Reta yang hendak menggandengnya, dan beralih menggandeng mesra tangan kekasihnya saat hendak berfoto bersama. Tampaklah dalam foto wajah keraguan dan kegalauan Reta yang menunjukkan kesendirian dalam hatinya.

2

Setelah sesi foto bersama selesai, para siswa membubarkan diri sesuai kepentingannya sendiri-sendiri. Ada yang pulang ke rumahnya masing-masing, ada yang merayakan kelulusan dengan makan-makan, ada yang bermesra-mesraan pacaran, ada pula Reta yang merasakan kesendiriannya semakin menjadi saat semua acara kelulusan selesai, tanpa teman, tanpa kawan, bahkan tanpa pujaan hatinya.

 *****

Reta yang seorang diri, hanya dapat berdiam di tempat , tak tahu apa yang harus dilakukannya. Melepas kepenatannya, ia mulai berjalan-jalan kemana saja mengikuti langkah kakinya, ia hanya mengikuti kata hatinya untuk terus berjalan menyusuri langkah demi langkahnya. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah cermin. Ia berpikir, mengapa ada cermin di tempat seperti ini. Dan anehnya lagi, ia berdiri di depan cermin itu, tapi ia tak sedikitpun melihat dirinya sendiri di cermin itu. Ia terus melihat ke dalam cermin tanpa bayangan itu. Lama-kelamaan ia tersantuk untuk masuk ke dalamnya, memasuki ruang di dalamnya.

Ia sadar kini ia berada di tempat yang berbeda dengan tempat ia berada sebelumnya. Ia takut sendirian di tempatnya kini berada. Ia berusaha menerobos dan mendorong-dorong kembali cermin yang ia masuki tadi. Tapi alhasil, cermin yang hendak ia masuki untuk kembali ke tempat semula justru pecah, rusak, dan terjatuh begitu saja. Tak ada pilihan lain selain berada di ruang yang baru saja ia masuki.

Di ruang tempatnya berada tersebut, ia melihat beberapa boneka yang tergeletak di lantai. Pada awalnya ia merasa takut karena ia hanya seorang diri di tempat itu. Namun, ia mulai mendekati boneka itu dan menyentuhnya. Boneka-boneka itu tampak seperti nyata, mereka tampak hidup, tapi mereka selalu berama-ramai bersama tak peduli apappun yang terjadi.

3

Di sisi sudut ruangan ia juga menemukan sebuah kotak musik. Ia coba buka kotak musik itu perlahan-lahan. Yang ia temukan, sebuah musik mulai mengalun pelan dan lembut serta dua boneka kotak musik di dalamnya mulai muncul dan menari bersama dengan anggunnya. Reta sendiri yang melihatnya begitu iri akan kebersamaan yang dilalui kedua boneka kotak musik ini. Dalam hatinya, ia terus berseteru. Terus menyerukan bahwa ‘Boneka kotak musik yang hanya seperti ini saja, bisa selalu berdua bersama, baik itu ada musik maupun tidak, mengapa dirinya dan manusia pun tak bisa selalu seperti itu?’

Reta mulai tak sabar diri dengan pergulatan hatinya yang terus bergejolak akan perasaan iri hatinya yang selalu sendiri dan sendiri saja. Ia merasa semuanya sungguh tak adil baginya. Karenanya, dengan penuh emosi ia mencoba merusak kotak musik tersebut. Menendangnya, memukul, bahkan merobek-robek kotak musik tersebut hingga benar-benar hancur lebur.

*****

Reta yang tadinya merasa puas telah berhasil menghancurkan kotak musik yang membuatnya merasa iri, kini kembali ke kehidupannya yang penuh kegalauan hati. Ia mulai mengingat rasa sedihnya lagi. Ia tertunduk lemas, merenungi apa yang menjadi sendunya kisah hidupnya ini. Di sela-sela perenungannya, ia mulai bergumam menyanyikan lagu yang sungguh tepat menggambarkan keadaan dirinya sekarang ini. Lagu itu ialah lagu sendu berjudul “Simfoni Hitam” dari Sherina Munaf.

Seketika ia menyanyikan lagu itu, musik dari lagu itu sendiri mulai mengalun, dan boneka-boneka yang setadinya tergeletak di lantai mulai bergerak perlahan, terbangun, dan menghampiri seorang Reta yang tengah beryanyi sendu.

Malam sunyi kuimpikanmu

Kulukiskan kita bersama

Namun s’lalu aku bertanya

Adakah aku di mimpimu

4

Di hatiku terukir namamu

Cinta rindu beradu satu

Namun s’lalu aku bertanya

Adakah aku di hatimu

 5

T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku

T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku

T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku

Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

6

Bila saja kau di sisiku

 ‘Kan ku beri kau segalanya

Namun tak henti aku bertanya

Adakah aku di rindumu

7

T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku

T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku

T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku

Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

Bahkan ketika kesedihan hati Reta tengah menjadi kacau karena dicampur aduk dengan rindu, sayang, patah hati, dan segala rasa sedu sedan yang begitu menyayat hatinya, bayangan seorang laki-laki yang ia sukai sendiri terus muncul dan menghantuinya, beserta dengan kemesraan yang ia bawa bersama kekasihnya sendiri, sungguh membakar habis hati seorang Reta. Keberadaan Reta sendiri seperti tak dianggap adanya. Sepertinya lirik dalam lagu yang dialunkannya yang demikian :

8

Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku

Dengar simfoniku

Simfoni hanya untukmu….

*****

Ketika bayang-bayang tentang cowok pujaan Reta berserta kekasihnya  yang terus menghantuinya itu hendak hilang, Reta sendiri justru tidak ingin melepasnya, tak ingin pujaannya pergi, karena Reta tak ingin sendiri lagi, tak ingin biarkan pujaannya jauh darinya. Ia ingin sekali menggapai apa yang menjadi harapan cintanya selama ini, tapi ia tak bisa, tak akan pernah bisa, hati cowok itu pun sudah tertutup tak mampu lagi tersentuh dan tergugah sedikitpun oleh ketulusan cinta seorang Reta.

Tangannya nyaris saja menggapai keinginan bebalnya jika saja tidak ada tangan-tangan boneka yang menghalaunya. Boneka-boneka itu terus menahannya hingga bayang-bayang kegalauannya berhasil sirna. Mereka menyelamatkan Reta dari bayangan kelam akan kasihnya yang tak pernah sampai. Tak bisa, Reta tak bisa terus-menerus terbenam dalam kesenduan hatinya yang sangat gelap, bagaikan simfoni hitamnya yang bahkan enggan terdengar oleh pujaan hatinya.

Seketika itu, ia terduduk lemas, merenungi apa yang menjadi kekerasan hatinya hingga begitu terlarut akan kesedihan, kesedihan, dan kesedihan dalam hatinya. Tak kunjung luput yang direnunginya, tangan-tangan boneka mulai mengangkat tubuhnya yang lemah dan mendudukkannya di kursi beroda.

9

Para boneka mulai mencoba menghiburnya agar pulih menjadi Reta yang ceria, yang tidak larut dalam kegalauannya yang mendalam. Mereka bahkan menyanyikan lagu ceria untuk Reta, beserta mengajaknya untuk menari bersama.

10

Meski kita terpisah di tempat yangg berjauhan

Kuharap suara kita ‘kan tetap tersampaikan

Saat kau tersesat, ikutilah suaranya

11

Keberuntungan pasti datang bagi mereka yang tertawa

Mata menangismuu yang bengkak pasti ‘kan membaik jika kau tersenyum

Kita justru bertemu di dunia yang terlalu menyesakkan

Karena itu marilah kita pergi melihat dunia yang berwarna

 Karena kamu terlalu berusaha, kamu bahkan menabrak tembok itu

Tapi sekarang sudah tak apa, karena kamu tak sendiri

12

Asalkan kau tertawa, akupun akan tertawa

Tak peduli apapun terjadi dan siapa yang menghalangi

Meski kita terpisah di tempat yang berjauhan

Kuharap suara kita ‘kan tetap tersampaikan

Saat kau tersesat, ikutilah suaranya

Setelah lagu ceria saduran dari Jepang berjudul “Oto No Naru Hou E” selesai dimainkan, Reta kembali terbingung-bingung akan boneka-boneka yang semakin bertambah banyak yang menari bersamanya. Ia berputar mengelilingi boneka itu, semua mata boneka tertuju padanya, Reta semakin heran akan boneka-boneka di sekelilingnya. Hingga akhirnya ia bertanya, “Kalian siapa? Mengapa kalian begitu peduli terhadapku?”

13

 Salah seorang boneka justru balik bertanya, “Kamu tidak mengenal kami?” yang hanya dibalas gelengan oleh Reta.

Satu boneka yang lain menimpalinya, “Kami adalah teman-temanmu, yang selama ini hanya kamu anggap sebagai boneka,” serunya seraya membuka topeng yang tadinya ia pakai, diikuti oleh teman-temannya yang lain.

Reta mulai mengerti apa yang dimaksudkan teman-temannya, “Jadi, selama ini kalian ….. “

“Ssssshhhttt ….. !!!!!” seru boneka-boneka yang lainnya.

Kemudian tiga di antara boneka yang lain mulai menuntun dan menutup mata Reta dan mendudukkannya di tangga taman. Ia terbawa dalam tidur saat di bawa teman-temannya menuju taman.

14

Dalam tidurnya, seseorang menghantarkan sebuah kotak musik dan meletakkannya di pangkuan Reta.

15

Sesaat setelah itu, ia terbangun dan mendapati kotak musik di pengkuannya. Ia menyadari dan kemudian menyesalinya, bahwa semua tawa dan canda yang baru saja ia dapatkan dari teman-temannya yang selama ini hanya dianggapnya sebagai boneka adalah hanya sekadar mimpi belaka.

16

Sampai pada akhirnya, ia dapat menyadari bahwa ia selama ini tidak sendiri, dirinya sendiri yang selalu menganggap ia seorang diri, ia masih mempunyai teman-teman di sekelilingnya yang begitu peduli terhadap ketermenungannya selama ini. Ia sadar selama ia sekolah, hanya ia habiskan untuk bergalau ria demi cowok pujaannya seorang, tanpa memedulikan betapa setianya teman-temannya yang selalu berada di sisinya. Ia kini mengerti bahwa sekolah yang ia tempuh selama 3 tahun ini, bukanlah sekadar untuk berpacaran, apalagi galau maupun gila akan cinta, yang terpenting adalah kita dapat lulus, mendapat nilai yang terbaik, bahkan sukses karena ada teman-teman kita yang senantiasa bersama kita, tak peduli saat susah maupun senang.

17

Di akhir cerita ditutup dengan permainan alunan musik dari pengamen bermusik menggunakan biola dan gitar. Reta menyadari keberadaanya sekarang ini. Setelah ia sadar akan kehidupan sekolahnya selama ini, ia berjalan menuju arah pengamen tersebut kemudian memberikan sejumlah uang sakunya pada kotak biola yang tergeletak di lantai. Ia berhasil menata hatinya sekarang, ia kemudian berlalu dengan hati yang tenang dan damai.

18

~THE END~

Di akhir penampilan kelas XII Bahasa, kami menyanyikan lagu ciptaan salah satu kelompok musik, yang liriknya berisi tentang kebersamaan kita dari kelas XI Bahasa hingga sekarang ini menjadi kelas XII Bahasa.

19

Berawal dari sebuah kebersamaan

Bersatu dalam ruang yang besar

Menjelma sebagai bintang-bintang

Yang sangat cemerlang

Satu hati, satu rasa, satu jiwa

Mempersatukan kita

20

Dalam semangat yang membara

Dalam kebersamaan yang kita bina

Membangun tekad penuh harap

‘Tuk menjadi bintang yang bersinar

21

Tak lupa kami juga mengundang wali kelas kami tercinta, Ibu Widyastuti Tri Sulistyorini ke atas panggung serta memberikan sebuah bucket bunga untuk Bu Wid tercinta sebagai rasa terima kasih telah dibimbing selama kita di kelas XI Bahasa, bahkan kelas XII Bahasa ini setia menjadi wali kelas kami, membimbing 20 murid yang sangat beraneka ragam bentuk dan rupanya ini. Hehehe …..😀

 2210357261_634015066688536_4489160759099292785_n

Dalam semangat yang membara

Dalam kebersamaan yang kita bina

Membangun tekad penuh harap

‘Tuk menjadi bintang yang bersinar

23

‘Tuk menjadi bintang yang bersinar…..

*****

Tirai ditutup, dan inilah penampilan sederhana dari kami …

Inilah ceritaku tentang GKS 2014, GKS terakhir di SMA 7😀

Semoga dapat menginspirasi serta memotivasi readers ….

~Farewell – Goodbye~

Credit :

*Story by => Evita Budiharso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s