[FF] RAINY NIGHT (Special for TVXQ’s 9th Anniversary) Chapter 2

Image

25 Desember 2012, 23.00

Di beranda apartemen Duo TVXQ.

Tak kusadari, aku mulai meneteskan air mata yang akhirnya membasahi pipiku. Mengingat kejadian itu memang sungguh menyakitkan. Aku pikir, dulu segala sesuatu terjadinya pemisahan antara kami berlima hanya dikarekan satu hal, aku. Sebagai leader, aku merasa salah besar, terutama dalam mengambil keputusan.

Kenapa dulu aku harus menuruti Jaejoong-Hyung? Wae?

Malam ini sesungguhnya malam yang sangat indah, malam di mana hari ini merupakan hari Natal, malam di mana hari esok merupakan ulang tahun ke-9 dari grup yang bernama Dong Bang Shin Ki. Bukan, kami sebenarnya bukan lagi hanya sekadar grup, tapi kami sebuah keluarga. Keluarga yang bahkan dipimpin oleh aku sendiri.

Tapi mengapa yang kurasakan di dalam lubuk hatiku justru kesedihan yang tak ada hentinya. Ditambah dengan cairan bening ini yang dengan relanya terus-menerus terjun dari kantong mataku tanpa bisa kucegah setetes pun. Membuatku semakin sulit untuk menyembunyikannya dari bintang yang sedari tadi menyinariku.

Hal ini juga yang kurasakan di malam yang sama tahun 2010 dan 2011 yang lalu, bahkan tahun ini terasa lebih menyakitkan dibanding dengan 2 tahun yang lalu maupun 1 tahun yang lalu. Kenapa? Kenapa aku merasakan demikian? Aku sendiri bahkan tidak memahami hal apa yang membuatku merasakan kesedihan yang berlarut-larut membuat rasa sakit yang lebih dalam dan dalam lagi.

Aku rasa sebelum ini memang aku yang paling egois, malam ulang tahun TVXQ yang lalu-lalu aku selalu kesepian dengan tidak adanya kalian betiga di sini. Namun yang ada dalam benakku hanyalah kalian bertiga yang melakukan kesalahan, kalian bertiga yang melakukaan kesepakatan tidak masuk akal, kalian bertiga yang meninggalkan aku dan Changmin, kalian bertiga yang tidak memperdulikan keadaan dan perasaan kami. Bahkan, hingga kini hanya penyesalan tiada akhir yang aku rasakan. Mianhae, semuanya kuanggap kalian yang bersalah. Sekarang aku menyadari, benar-benar menyadari. Adanya perasaan yang kita rasakan namun kita bahkan tak mau mengungkapkannya satu sama lain. Termasuk yang kualami di masa lalu maupun sekarang ini. Hingga akhirnya kalian dengan cepatnya berpisah dengan kami. Yang aku pikir itu hanya untuk sementara waktu, tapi sekarang entah sampai kapan, molla. Mian, chingudeul. Mian.

Akhirnya kuungkapkan apa yang sedang kurasakan saat ini, meskipun hanya kuungkapkan dalam hati dan jelas tak bisa kuungkapkan langsung kepada mereka, bahkan pada Changmin sekalipun.

***

25 Desember 2012, 23.40

Di beranda apartemen Duo TVXQ.

Meskipun tepat di hari ulang tahun TVXQ, aku dan Changmin dapat tersenyum bahagia, namun malam sebelumnya aku selalu merasa kesepian dan yang lebih parah lagi rasa sedih yang terus menghantuiku. Aku yakin Changmin juga merasakan demikian, sama halnya denganku. Bahkan meskipun aku tak tahu isi hatinya yang sesungguhnya sekalipun, aku tetap yakin 100%, apa yang ia rasakan sama dengan apa yang kurasakan.

“Jaejoong-Hyung, Yoochun-ah, Junsu-yah, kuharap kau mengingatku, dan yang terpenting tak melupakan aku. Bogoshippo. Dapatkah kita kembali seperti dulu lagi? Merayakan ulang tahun berlima, mengirim pesan kepada Cassiopeia berlima, perform berlima, menyanyi berlima, menari berlima, melakukan semua hal berlima, baik di depan publik maupun melakukan kegiatan sehari-hari kita. Kuharap kau mendengar suara hatiku, chingudeul. Huuh,” ungkapku seolah mengatakannya pada mereka secara langsung.

Air mataku kembali mengalir membasahi kedua pipiku. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya ingin bersama mereka. Kemudian, mulutku mulai terbuka dan menyanyikan sebuah lantunan melodi indah untuk mereka, “Stand by U”.

Kimi wa doko ni ite, dare to doko ni ite?

Where are you now, who are you being with?

Donna fuku wo kite, nani shite waratterun darou?

What kind of clothes are you wearing, what are doing and laughing at?

Boku wa koko ni ite, ima mo koko ni ite,

I am right here, even now, I am right here.

Kimi to futari de mata aeru to shinjiteiru yo

And I still believe that we will see each other again.

Kimi dake omotteiru yo

You’re the only one I’m thinking of.

Pukul 23.55

“No matter where you are, no matter who you are being with, no matter what kind of dream you are dreaming of, or what you are doing and laughing at. I’m waiting for you, don’t forget me. Please, don’t forget …”

“Hyung, masih ingat aku rutin mengatakan kalimat yang sama 2 tahun terakhir ini di malam yang sama sejak tinggal kita berdua saja bersama?”

Changmin-ah! terkejutnya aku, Changmin yang tadinya sedang tidur dengan pulasnya tiba-tiba berada di belakangku dan berbicara padaku.

Aku hendak menyeka derasnya air mataku ketika akhirnya ia berkata, “Seperti biasa, tak usah kau tutup-tutupi lagi kesedihanmu itu, hyung! Arasseo,” katanya lembut menghiburku.

Image

“Changmin-ah,” segera kupeluk Changmin dengan erat dalam waktu yang cukup lama tanpa ada rasa ingin melepasnya. Kurasa dia juga tak kalah menangis, kudengar isakannya pelan. Kemudian ia mulai berkata lagi meski masih dalam pelukan eratku.

“Masih ingatkah kau dengan kata-kataku hyung?”

Aku melepaskan pelukanku dan berkata dengan mantap, “Mereka pasti mengingat hari ini adalah hari spesial, mereka juga akan merayakannya di sana meskipun mereka hanya bertiga. Kitapun juga akan merayakannya meskipun kita hanya berdua. Kita akan bersama-sama merayakannya meskipun terpisah oleh ruang dan tempat yang berbeda.”

“Geurae, satu hal lagi, hyung. Menangis di hari yang harusnya membahagiakan itu tidak masalah, jika memang hal itu dibutuhkan. Kita tak perlu lagi tersenyum di balik kesedihan kita, hyung,” dia menyeka air matanya, “Aku bahkan sudah muak dengan semua kebohongan ini,” lanjutya tiba-tiba merubah nadanya menjadi seperti ada kejengkelan di dalamnya.

“Changmin-ah, mworaguyo? Kebohongan?”

“Aniyo, bukan apa-apa,” dalam keadaan terheran dengan kata-kata yang Changmin lontarkan sebelumnya, Changmin justru tidak membahasnya lagi. Dan mengalihkan pandangannya pada benda bulat yang melingkar di tangannya. “5 detik,” katanya. Dia diam selama 2 detik, dan “Hana, Dul, Set, Saengil Chukhahamnida DONG BANG SHIN KI! Wuuuuu!” dia berteriak kencang sekali, dengan kedua tangannya yang ditepukkan berkali-kali menunjukkan adanya kemenangan dengan gerakan tanganya yang demikian.

“Saengil Chukhahamnida

Saengil Chukhahamnida

Saranghaneun DONG BANG SHIN KI!

Saengil Chukhahamnida”

Changmin menyanyikan lagu tersebut berulang-ulang kali dengan wajah riang dan menunjukkan senyum lebarnya, namun yang kurasa hampa adalah di saat mukanya menunjukkan senyum yang begitu riang, derasnya tetesan air mata tak henti-hentinya mengalir dari mata indah sang Choikang Changmin. Begitu pula denganku, melihatnya menangis justru membuatku lebih tak bisa membendung niatku untuk tidak menangis. Aku ikut menangis melihatnya demikian. Bahkan hujan air mata ini seperti tidak akan pernah ada habisnya dan tidak akan berhenti. Memori di masa lalu tentang kesedihan pun tidak bisa dilupakan begitu saja, karena memori itu sungguh terasa menyakitkan.

♥Rain in my heart

The tears won’t stop tonight

In the end, you left like a fleeting

forgotten memory♥

***

TBC~ to the last chapter… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s